Have an account?

Rabu, 27 Januari 2010

kuliner kebun

Dendeng Jantung Pisang dari Cimahi
DENDENG dan abon, umumnya terbuat dari daging. Tapi di Cimahi, jantung pisang pun bisa disulap menjadi dendeng dan abon yang lezat dan menggiurkan.

ADALAH Bambang Eko Putro yang pertama kali memperkenalkan itu. Di Cimahi denden dan abon jantung pisangnya sudah sangat terkenal. Warga menyebutnya sebagai denjapi alias dendeng jantung pisang dan bonjapi atau abon jantung pisang.
Dari sisi bentuk, nyaris tak ada beda antara denjapi dan bonjapi ini dengan dendeng dan abon biasa yang terbuat dari daging. Dari sisi rasa juga tak jauh beda, terlebih untuk bonjapi yang di Cimahi sudah dipasarkan sejak lima tahunan lalu.
Bambang mengaku, ketertarikannya mengolah jantung pisang berawal ketika dirinya melihat jantung pisang tercecer tanpa manfaat di sisi jalan yang dilewati. Bambang langsung ingat kepada sang nenek di Kediri yang sering menyajikan sayur jantung pisang sebagai menu makanan.
"Saya mulai coba-coba buat menu makanan dari jantung pisang tahun 2003. Kalau diamati tekstur serat jantung pisang mirip serat daging. Lalu saya coba membuat bumbu dendeng sehingga jadi menu denjapi," jelas sarjana ekonomi yang pernah bekerja di perusahaan perangkat water heater ini ketika ditemui di rumahnya di Perumahan Puri Cipageran Indah, Cimahi, beberapa waktu lalu.
Melalui industri skala rumah tangga ini lah rata-rata dalam sehari, Bambang mampu memproduksi 400 kemasan denjapi dan 100 kemasan bonjapi. Produk tersebut dipasarkan melalui penjual dan 30-an penyalur di wilayah Jawa Barat. Pengiriman produk ini ke Malaysia dan Singapura dilakukan hanya bila ada permintaan.
"Saya belum bisa melayani jumlah pemesanan banyak, satu kontainer misalnya. Ketersediaan bahan baku masih jadi kendala. Agak sulit mendatangkan jantung pisang dari luar Jawa Barat karena daya tahannya cuma dua hari," terang Bambang.
Sebagian bahan baku jantung pisang maupun pisang diperoleh dari kebun pisang milik Bambang di wilayah Cipageran, Cimahi, seluas tiga hektare dan kebun pisang seluas 10 hektare di Darangdan, Purwakarta.
"Saya masih terus mengumpulkan berbagai jenis pisang dari seluruh Indonesia untuk ditanam di kebun. Makanya kalau dari daerah, saya selalu bawa bonggol pisang sebagai oleh-oleh. Ada yang dari Aceh, Kalimantan, dan daerah lain. Ke depan saya ingin membuat kebun saya menjadi area wisata kebun. Di tempat ini masyarakat bisa mendapat wawasan tentang aneka jenis pisang sekaligus melakukan penelitian," ungkap Bambang. (ricky reynald yulman)

Dibuat Sate Pun Oke
SELAIN mengolah jantung pisang menjadi dendeng dan abon, Bambang juga mengembangkan penelitiannya tentang manfaat lain jantung pisang bagi kesehatan.
Dibantu putri sulungnya Bambang meneliti rebusan air jantung pisang yang bisa mencegah pendarahan otak bila diminum secara rutin. Penelitian tersebut akhirnya dijadikan bahan skripsi putrinya untuk menamatkan pendidikan di Jurusan Farmasi ITB.
"Orangtua dulu menggunakan getah pisang buat menghentikan pendarahan kalau kita luka. Kemudian embun yang ada di bonggol pisang sering dipakai buat menyehatkan rambut. Jadi masih banyak lagi penelitian tentang pisang yang bisa kita lakukan," ujar Bambang.
Bambang mengaku, kini sudah ada 47 resep makanan nusantara dan minuman berbahan dasar pisang yang ia kuasai. Tapi sekarang baru 15 menu yang ia kenalkan melalui gerai "Banana Is Pisang" di area wisata Tahu Lembang dan De Ranch. Dua di antaranya adalah baso goreng dan sate jantung pisang yang belakangan malah menjadi menu favorit pengunjung.
Menu lainnya yang ia buat adalah colenak pisang, cireng isi pisang, bolu dan brownies pisang, aneka rasa kripik pisang, dan pisang sale.
"Baso goreng disajikan dengan kuah asam segar. Sate pakai bumbu kacang. Teman yang biasa buat cireng aneka isi sempat ragu waktu saya anjurkan coba isi cireng dengan pisang raja bulu. Ternyata permintaan konsumen terus tambah. Ada yang tadinya cuma mau coba-coba, malah langsung pesan lima porsi atau lebih," kisah Bambang seraya mengaku bahwa emua keahliannya kini ia pelajari secara otodidak sejak 2003 silam. (ricky reynald yulman)