Kaya untuk Meningkatkan Ibadah, Ok. Kalo Matre, Jangan
Bagikan
Jum pukul 19:23
Masyarakat yg matre sifatnya ngoyo menjadi kaya setiap kali melihat ada orang berlimpah harta lewat di tengah kehidupan mereka. Dipikirannya ngejadiin dunia sebagai tujuan, dikepalanya cuma ada dunia, dunia, dunia tanpa meratiin cara2 yang digariskan oleh Islam untuk mndapatkannya secara halal serta berzakat, sedekah. Berbeda kalo yg materialisme ( matre ) biasanya bakalan kikir, pelit alias medit. Keadaan mereka yang matre seperti dikisahkan pegimana masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang tokoh kaya-raya bernama Qarun digambarkan di dalam Al-Qur’an.
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
”Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".(QS Al-Qashshash ayat 79)
Zaman kita dewasa inipun keadaannya sangat mirip dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai kemewahan tokoh kaya, selebritis, artis, olahragawan dan pejabat dipertontonkan di televisi dan media lainnya sehingga masyarakat berdecak kagum dan tentunya menjadi iri dan berambisi ingin menjadi hartawan seperti mereka pula. Sedemikian kuatnya ambisi tersebut terkadang muncullah berbagai kasus mengerikan di tengah masyarakat. Sebut saja munculnya perdagangan bayi, penjualan organ tubuh, pelacuran, korupsi, pencurian, perampokan dan pengkhianatan para pejuang yang semestinya berada di jalan Allah. Semua dilakukan karena terbuai dengan mimpi ingin secara instan menjadi seorang yang kaya.
Bardasarkan hal ini pantaslah bilamana teladan kita Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan kita suatu prinsip penting dalam hal menghindari berkembangnya kemungkinan faham materialisme di tengah masyarakat. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justeru mengajarkan ummat Islam agar senantiasa rajin memandang kepada kalangan yang kurang beruntung secara materi daripada diri kita sendiri. Hal ini diharapkan akan menumbuhkan rasa syukur dan ridha atas pemberian Allah.
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ
هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Pandanglah orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah memandang orang yang di atas kalian. Maka yang demikian itu lebih layak untuk dilakukan agar kalian tidak menganggap remeh akan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR Muslim)
Betapa dalamnya pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas. Andaikan setiap kita berpegang teguh kepada prinsip di atas niscaya masyarakat akan terhindar dari ideologi materialisme. Tidak mungkin akan muncul suatu anggapan bahwa harta merupakan tolok ukur kemuliaan seseorang. Setiap orang akan senantiasa rajin mensyukuri segenap karunia Allah yang telah diterimanya. Islam mengajarkan bahwa tolok ukur kemuliaan sejati ialah taqwa seseorang kepada Allah.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS Al-Hujurat ayat 13)
Allah tidak pernah berfirman: ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling berharta di antara kamu”. Tidak...! Allah jelas tegas menyatakan bahwa taqwa merupakan tolok ukur sesungguhnya mulia-hinanya seseorang di mata Allah. Semakin bertaqwa seseorang berarti semakin mulia dirinya di sisi Allah. Dan sebaliknya semakin tidak bertaqwa seseorang berarti semakin hinalah dirinya di mata Allah Yang Maha Mulia. Dan perkara ini tidak berkaitan dengan banyak-sedikitnya harta yang dimiliki orang tersebut. Bisa jadi seseorang berharta sedikit atau banyak, asalkan ketqwaannya kepada Allah memang tinggi, berarti mulialah dirinya di sisi Allah. Sebaliknya, berapapun kekayaan atau kemisikinan seseorang, bilamana ketaqwaannya kepada Allah sangat tipis, apalagi tidak ada samasekali, berarti orang tersebut hina di dalam pandangan Allah. Taqwa merupakan timbangan sejati bernilai atau tidaknya seseorang dalam pandangan Allah yang Maha Tahu dan Maha Teliti PengetahuanNya
Maka hadits riwayat Imam Muslim di atas sudah semestinya menjadi pegangan seorang beriman. Hendaklah bila sudah menyangkut urusan harta dan kekayaan seorang muslim janganlah memandang silau kepada orang yang berada di atas dirinya. Tapi sepatutnya ia bersibuk memandang mereka yang lebih rendah daripada dirinya sehingga rasa syukur dan ridha akan pemberian Allah senantiasa terpelihara di dalam dirinya. Bila ia sibuk memandang kepada mereka yang lebih kaya daripada dirinya, niscaya yang muncul adalah keluhan dan ketidakpuasan akan pemberian Allah kepada dirinya. Maka di zaman Qarun hidup ada sebagian masyarakat Mesir yang tetap bersikap benar dalam memandang Qarun. Mereka inilah yang disebut Allah di dalam Al-Qur’an sebagai orang-orang yang berilmu dan mereka sangat faham akan hakekat kemuliaan dan kehinaan di dalam kehidupan fana ini.
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ
لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar".(QS Al-Qashshash ayat 80)
Orang-orang yang berilmu sangat sadar bahwa pahala dari Allah karena iman dan amal sholeh seseorang, jauh lebih utama dan berharga daripada sekedar harta dan kekayaan duniawi seperti yang dikumpulkan oleh seorang Qarun. Itulah sebabnya tatkala pada akhirnya Allah mencabut hak kekayaan Qarun dengan mendatangkan bencana yang menghancurkan segenap kekayaan dan diri Qarun, barulah kaum awam yang jahil alias bodoh atau sempit wawasan itu memahami dan menyadari betapa bodohnya diri mereka karena tergiur menginginkan seperti yang dimiliki oleh Qarun.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ
مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ وَأَصْبَحَ الَّذِينَ
تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالأمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ
لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا
لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu. berkata: "Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)". (QS Al-Qashshash ayat 81-82)
Sosok Qarun dan siapapun yang memiliki mental dan sikap seperti dia, adalah sosok yang mengingkari nikmat Allah. Mereka menyangka bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan merupakan hasil prestasi dirinya dan tidak ada kaitan dengan Allah yang Maha Menentukan pembagian rezeki manusia. Mereka tidak pernah besyukur kepada Allah akan rezeki yang diterima. Dan mereka tidak pernah memohon rezeki kepada Allah saat dirinya sedang mengalami kesulitan rezeki. Mereka hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri dalam urusan materi. Mereka inilah kaum yang berideologi materialisme. Sungguh mateialisme tidak sama dengan Islam. Bersyukurlah kita orang beriman memiliki iman dan islam sebagai pegangan hidup
Mengenai Saya
IKLAN TERBARU
Laman
livescore
FRIEND BLOG
Jumat, 19 Februari 2010
Allah SWT Sumber Segala Kebaikan Hidup
Allah SWT Sumber Segala Kebaikan Hidup
Bagikan
Kemarin jam 18:59
Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allahdi baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya
bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidupini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan dikemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.
Masalah hidup itu sunnatullah. Biarlah ia ada, asal Allah sediakan jalan keluarnya. Dan
Allah, sebagai Pemilik Kehidupan ini, terkadang membiarkan kejadian-kejadian buruk menimpa kita, untuk sesuatu maksud di kemudian harinya. Mudah-mudahan kita mampu menemukan segala hikmah kejadian
hidup, dan diberikan kekuatan serta kesabaran menghadapi semua ujian
Kalau kita lihat sekeliling kita, cukup banyak orang-orang yang putus asa di negeri ini. Banyak orang-orang yang kehilangan motivasi danspirit dalam menjalani hidup ini. Sebagiannya sebab mereka menghadapi
Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Sendirian Dalam Menjalani Ujian Kehidupan
Allah memang senantiasa menguji hamba-Nya. Tapi Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sendirian dalam menjalani ujian hidup ini.
Allah akan selalu menemani. Kitanya saja yang perlu mengenali bahwa
Allah begitu dekat dalam kehidupan kita. Dia akan selalu memperhatikan kita, menjaga kita, dan menyayangi kita..
masalah hidup yang harusnya tidak menjadikan mereka lemah. Masalah
hidup, semestinya mengantarkan ”para penikmatnya” untuk kembali kepada
Allah.
Koq saya menyebutnya para penikmatnya? Ya, permasalahan hidup kalo dinikmati, malah menyenangkan. Makanya, harusnya, ya dinikmati.
Saya diajarkan oleh kehidupan ini: Berterimakasihlah sebab kita diberi masalah. Sebab kita akan menjadi kuat, kita akan menjadi belajar, dan karunia Allah biasanya akan datang lebih banyak lagi ketika sebelum
bermasalah. Asal syaratnya: Sabar, Ikhlas, Syukur.
”Wa mal lam yasykur ’alaa na’maa-ii... siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku... wa lam yashbir ’alaa balaa-ii... dan tidak bersabar di setiap ujian-Ku... wa lam yardhoo bi qodhoo-ii... dan tidak ridha atas Ketetapan-Ku... falyakhruj min tahti samaa-ii... keluarlah dari langit-Ku... wal yathlub robban siwaa-ii... dan carilah Tuhan selain diri-Ku.” (Hadits Qudsi).
Dan berterimakasihlah diberi masalah oleh Allah. Banyak yang sesat justru ketika mereka tidak bermasalah, hidup enak, nyaman, tiada rintangan. Lalu Allah beri masalah, hingga mereka ingat kelalaiannya,kesalahannya, kealpaannya.
Bagikan
Kemarin jam 18:59
Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allahdi baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya
bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidupini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan dikemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.
Masalah hidup itu sunnatullah. Biarlah ia ada, asal Allah sediakan jalan keluarnya. Dan
Allah, sebagai Pemilik Kehidupan ini, terkadang membiarkan kejadian-kejadian buruk menimpa kita, untuk sesuatu maksud di kemudian harinya. Mudah-mudahan kita mampu menemukan segala hikmah kejadian
hidup, dan diberikan kekuatan serta kesabaran menghadapi semua ujian
Kalau kita lihat sekeliling kita, cukup banyak orang-orang yang putus asa di negeri ini. Banyak orang-orang yang kehilangan motivasi danspirit dalam menjalani hidup ini. Sebagiannya sebab mereka menghadapi
Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Sendirian Dalam Menjalani Ujian Kehidupan
Allah memang senantiasa menguji hamba-Nya. Tapi Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sendirian dalam menjalani ujian hidup ini.
Allah akan selalu menemani. Kitanya saja yang perlu mengenali bahwa
Allah begitu dekat dalam kehidupan kita. Dia akan selalu memperhatikan kita, menjaga kita, dan menyayangi kita..
masalah hidup yang harusnya tidak menjadikan mereka lemah. Masalah
hidup, semestinya mengantarkan ”para penikmatnya” untuk kembali kepada
Allah.
Koq saya menyebutnya para penikmatnya? Ya, permasalahan hidup kalo dinikmati, malah menyenangkan. Makanya, harusnya, ya dinikmati.
Saya diajarkan oleh kehidupan ini: Berterimakasihlah sebab kita diberi masalah. Sebab kita akan menjadi kuat, kita akan menjadi belajar, dan karunia Allah biasanya akan datang lebih banyak lagi ketika sebelum
bermasalah. Asal syaratnya: Sabar, Ikhlas, Syukur.
”Wa mal lam yasykur ’alaa na’maa-ii... siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku... wa lam yashbir ’alaa balaa-ii... dan tidak bersabar di setiap ujian-Ku... wa lam yardhoo bi qodhoo-ii... dan tidak ridha atas Ketetapan-Ku... falyakhruj min tahti samaa-ii... keluarlah dari langit-Ku... wal yathlub robban siwaa-ii... dan carilah Tuhan selain diri-Ku.” (Hadits Qudsi).
Dan berterimakasihlah diberi masalah oleh Allah. Banyak yang sesat justru ketika mereka tidak bermasalah, hidup enak, nyaman, tiada rintangan. Lalu Allah beri masalah, hingga mereka ingat kelalaiannya,kesalahannya, kealpaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)






